Bakal Pecahkan Rekor Dunia! Libatkan Seribu Alumni Lintas Generasi, Pohon Mahoni Satu Abad di SMPN 1 Tondano Bakal Disulap Jadi Pohon Natal Raksasa

Pohon Mahoni Satu Abad di SMPN 1 Tondano Bakal Disulap Jadi Pohon Natal Raksasa. (foto/nix)

LEKTUR.CO, TONDANO – Ini bukan sekadar cerita tentang pohon Natal. Di Tondano, sebuah pohon hidup berusia lebih dari satu abad bakal menjadi pusat perhatian.

Pohon Mahoni berukuran jumbo yang berdiri kokoh di depan SMP Negeri 1 Tondano itu diproyeksikan disulap menjadi pohon Natal raksasa.

Targetnya pun tidak main-main. Membidik rekor dunia. Yang membuatnya semakin spektakuler, pohon tersebut bukan pohon buatan.

Pohon itu merupakan pohon hidup yang telah tumbuh dan menjadi bagian dari lingkungan sekolah selama puluhan generasi.

Menurut pihak sekolah, pohon Mahoni tersebut telah ada sejak 1917. Jika dihitung hingga 2026, usianya mencapai sekitar 109 tahun.

Batangnya yang besar dan kokoh, dipadu dengan dedaunan yang rimbun, membuat pohon ini memiliki daya tarik tersendiri.

Bahkan, pohon tersebut disebut telah terdaftar sebagai salah satu cagar budaya di Tanah Minahasa.

Kini, pohon bersejarah itu akan diberi wajah baru saat Natal tiba. Bukan ditebang. Bukan pula diganti. Melainkan dihiasi ribuan meter lampu Natal.

Gagasan spektakuler tersebut dikemas dalam “Gerakan Satu Meter Lampu Natal, Seribu Alumni Lintas Generasi SMP Negeri 1 Tondano”.

Konsepnya sederhana. Satu alumni menyumbang satu meter lampu Natal.

Jika 1.000 alumni ikut berpartisipasi, maka sedikitnya akan terkumpul 1.000 meter lampu Natal.

Ribuan meter lampu itulah yang nantinya akan menghiasi pohon Mahoni raksasa tersebut.

Ide kreatif ini diprakarsai Kepala SMP Negeri 1 Tondano, Melky Palilingan SPd MPd.

Gagasan tersebut kemudian mendapat sambutan positif dari Komite Sekolah dan para alumni.

Komite sekolah menjadi motor penggerak untuk mengajak alumni lintas generasi kembali bersatu.

Bukan untuk sekadar bernostalgia. Tetapi untuk membuat sebuah sejarah baru di sekolah yang pernah menjadi bagian dari perjalanan hidup mereka.

Pengurus Komite SMP Negeri 1 Tondano masing-masing Pricilia Mandey sebagai Ketua, Jufry Rawung sebagai Sekretaris, dan Jeanet Walalangi sebagai Bendahara.

Palilingan mengatakan, kegiatan ini mengedepankan semangat gotong royong. Semangat itu bahkan dituangkan dalam ungkapan khas Manado.

“Marijo torang gotong royong beking bagus pohon kenangan saat Natal datang”.

Menurutnya, satu meter lampu dari setiap alumni memiliki makna besar ketika dilakukan bersama-sama.

“Kalau satu orang alumni menyumbang satu meter, maka kalau ada seribu alumni yang berpartisipasi, sudah terkumpul seribu meter lampu Natal,” katanya.

Palilingan mengatakan, teknis agenda tersebut akan ditangani bersama Komite Sekolah.

“Agenda ini Komite Sekolah yang urus. Dan sudah banjir dukungan dari alumni,” sebutnya.

Ia pun berharap seluruh proses persiapan mendapat kemudahan sehingga agenda tersebut dapat terlaksana dengan lancar.

“Ini akan menjadi Pohon Natal terbesar di dunia. Dan hanya ada di Minahasa,” ujar Palilingan.

Rencananya, pohon Natal raksasa tersebut akan dilaunching pada 1 Desember 2026.

Konsepnya juga tidak berhenti pada pemasangan lampu.

Pihak sekolah menyiapkan area khusus agar masyarakat dapat menikmati sekaligus mengabadikan momentum tersebut.

Menurut Palilingan, nantinya akan dibuat sebuah pondok pada ketinggian tertentu dengan fasilitas tangga dari bagian bawah pohon.

Tempat tersebut dirancang menjadi salah satu spot foto bagi pengunjung.

Dengan demikian, pohon yang selama ini menjadi bagian dari lingkungan sekolah akan berubah menjadi salah satu ikon Natal di Tondano.

Di balik rencana spektakuler tersebut, SMP Negeri 1 Tondano ternyata memiliki sejarah panjang.

Sekolah ini bukan sekadar institusi pendidikan. Sekolah ini menjadi bagian dari perjalanan perkembangan pendidikan di Tondano dan Minahasa.

Data resmi Kemendikdasmen mencatat SMP Negeri 1 Tondano memiliki tanggal pendirian 1 Januari 1910.

Namun, sejarah bangunannya memiliki catatan tersendiri.

Kajian sejarah arsitektur dan warisan Kota Tondano mencatat bangunan MULO di Tondano didirikan pada 1914, kemudian mengalami renovasi pada 1925.

Bangunan bersejarah tersebut kini digunakan sebagai gedung SMP Negeri 1 Tondano.

MULO atau Meer Uitgebreid Lager Onderwijs merupakan bentuk pendidikan lanjutan pada masa pemerintahan kolonial Belanda.

Keberadaan bangunan tersebut menjadi salah satu jejak perkembangan pendidikan menengah di Tondano pada masa lalu.

Artinya, ketika para siswa dan alumni berdiri di lingkungan SMP Negeri 1 Tondano hari ini, mereka sebenarnya berada di sebuah kawasan yang telah melewati perjalanan sejarah pendidikan lebih dari satu abad.

Dari era pendidikan kolonial. Berganti generasi. Hingga menjadi SMP Negeri 1 Tondano seperti sekarang.

Pohon Tua, Sekolah Tua, dan Ribuan Kenangan. Kini, sejarah panjang itu bakal mendapatkan cerita baru.

Pohon Mahoni yang disebut telah berdiri sejak 1917 akan dihiasi lampu Natal.

Bukan oleh satu atau dua orang. Tetapi oleh gerakan 1.000 alumni lintas generasi.

Alumni dari berbagai angkatan akan dipersatukan kembali oleh satu pohon yang selama bertahun-tahun menjadi saksi perjalanan sekolah.

Satu meter lampu dari satu alumni. Seribu alumni. Seribu meter lampu. Dan satu pohon berusia 109 tahun.

Jika seluruh rencana berjalan sesuai target, halaman SMP Negeri 1 Tondano pada Desember 2026 bukan hanya akan dipenuhi cahaya Natal.

Tetapi juga akan menjadi tempat bertemunya sejarah, nostalgia, gotong royong dan semangat lintas generasi.

Dari pohon tua, lahir cahaya baru. Dan dari Tondano, sebuah ambisi besar untuk menghadirkan pohon Natal raksasa yang dibidik memecahkan rekor dunia kini mulai dinyalakan. (*)