LEKTUR.CO, MINAHASA – Dugaan pencemaran sumber air Kuala Marawas di Kelurahan Tonsea Lama, Kecamatan Tondano Timur, Kabupaten Minahasa, menuai keluhan warga.
Kotoran ternak babi yang diduga dialirkan langsung ke kuala tersebut dikhawatirkan mencemari sumber air yang selama ini dimanfaatkan masyarakat.
Selain ancaman terhadap kebersihan air, bau menyengat dari kotoran ternak juga disebut mengganggu kenyamanan warga sekitar.
Keluhan ini disampaikan Wildy Rumbajan, warga Tonsea Lama, melalui unggahannya di media sosial Facebook.
Ia meminta pemerintah dan instansi terkait segera turun tangan memeriksa kondisi di lokasi Kuala Marawas.
Pasalnya, kata Wildy, jika masalah ini sampai berlarut-larut, akan menimbulkan dampak bagi warga sekitar.
Menurutnya, persoalan tersebut bukan baru kali ini dikeluhkan. Bahkan, sejumlah warga telah memberikan peringatan kepada pemilik ternak.
“Bulan lalu beberapa warga sudah memberikan peringatan, tapi sampai saat ini belum ditindaklanjuti pemilik ternak,” ungkapnya.
Ia juga menyoroti dugaan penambahan pipa pembuangan dari kandang babi yang disebut belum dilengkapi instalasi pengolahan air limbah (IPAL).
“Dulu, sebelum ada ternak babi, sumber air di kuala ini sangat bersih. Bahkan, airnya bisa dipakai memasak dan mencuci,” tutur Wildy.
Ia menjelaskan, Kuala Marawas memiliki peran penting bagi masyarakat Tonsea Lama, Kembuan, dan wilayah sekitarnya, terutama ketika musim kemarau.
“Kami meminta dinas terkait turun langsung ke lokasi agar mengetahui kondisi Kuala Marawas saat ini,” tegasnya.
Merespons keluhan warga, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Minahasa, Nofry Lontaan, menyatakan pihaknya akan melakukan pengecekan langsung ke lokasi.
“Ok, kita akan cek lokasi itu,” singkat Nofry saat dimintai tanggapan media ini melalui pesan WhatsApp, Rabu (28/10/26).










