Sumpah Pemuda Di Ujung Utara Indonesia Ketika Anak Talaud Menatap Bendera Di Tengah Badai

ADVERTORIAL – HARI SUMPAH PEMUDA

LEKTUR.CO TALAUD – Jika Sumpah Pemuda 1928 diucapkan di Batavia oleh pemuda-pemuda berjas dan berdasi, maka 97 tahun kemudian, Sumpah Pemuda diucapkan kembali di tempat yang jauh berbeda.

Di sebuah pulau kecil bernama Miangas, pulau terluar Indonesia yang hanya beberapa mil dari Filipina.

Di sana, pada Kamis pagi (28/10/2026), seorang anak SMP bernama Yosua harus berjalan kaki 3 kilometer tanpa sepatu untuk sampai ke sekolah. Bukan untuk ikut lomba, tapi untuk menjadi petugas pengibar bendera dalam upacara Sumpah Pemuda.

Sepatunya sobek minggu lalu. Ia simpan untuk ujian nanti. Saat bendera Merah Putih naik, angin utara menghantam tiang bendera yang sudah berkarat. Yosua menangis. Bukan karena angin. Tapi karena ia hafal teks Sumpah Pemuda, namun ia baru pertama kali melihat bendera sebesar itu berkibar di kampungnya sendiri.

Kami Putra dan Putri Indonesia, Mengaku Bertumpah Darah Yang Satu, Tanah Air Indonesia.

Bagi kita di Manado, di Jakarta, kalimat itu mungkin hanya teks upacara. Tapi bagi Yosua di Miangas, di Beo, di Kabaruan, kalimat itu adalah sumpah hidup.

Tanah airnya adalah laut yang sering mengamuk. Tempat ayahnya melaut dan terkadang tidak pulang 2 hari karena sinyal tidak ada. Bertumpah darah yang satu artinya ia harus rela berbagi buku pelajaran yang sudah lusuh dengan 3 temannya.

Kami Putra dan Putri Indonesia, Mengaku Berbangsa Yang Satu, Bangsa Indonesia.

Bangsa yang satu itu, hari ini dibuktikan oleh seorang guru honorer di Salibabu yang gajinya belum cair 3 bulan, tapi tetap datang mengajar karena jika ia tidak datang, 20 anak tidak akan mengenal huruf A.

Kami Putra dan Putri Indonesia, Menjunjung Bahasa Persatuan, Bahasa Indonesia.

Bahasa Indonesia di Talaud bukan sekadar bahasa. Ia adalah jembatan. Ketika anak Talaud merantau menjadi ABK di Bitung, menjadi perawat di Manado, menjadi tentara di perbatasan, hanya Bahasa Indonesia yang membuat mereka tidak merasa sendiri.

Hari ini, 28 Oktober 2026, mari kita tidak hanya mengucapkan Sumpah Pemuda. Mari kita menghidupinya.

Untuk Yosua di Miangas yang rela tanpa sepatu.
Untuk guru honorer di Salibabu yang setia mengabdi.
Untuk setiap pemuda Talaud yang memilih bertahan membangun kampungnya, daripada pergi.

Selamat Hari Sumpah Pemuda ke-97.
Dari Ujung Utara Indonesia, Kami Masih Setia Menjaga Sumpah Itu.

Sumpah Pemuda, Talaud Terluar, Indonesia Satu. (Jun)