Gedung RSUD Mala Talaud (foto)
LEKTUR.CO TALAUD – Ada apa dengan RSUD Mala Kabupaten Kepulauan Talaud? Di saat pasien menjerit karena obat kosong, pucuk pimpinannya justru sulit ditemui.
Fakta ini terungkap setelah tim media mencoba menemui Direktur RSUD Mala Talaud selama dua kali berturut-turut.
Percobaan pertama, wartawan harus menunggu hingga 2,4 jam di depan kantornya. Alasannya, ada tamu. Namun hingga jam tunggu habis, Direktur tidak kunjung menemui wartawan.
Percobaan kedua dilakukan hari ini, Rabu (29/10/2026). Lagi-lagi hasilnya nihil. Saat ditanya, para staf di RSUD Mala kompak menjawab, “Ibu Dirut ada perjalanan dinas luar daerah Talaud.”
Dua kali didatangi, dua kali pula tidak ada kejelasan. Padahal, kedatangan wartawan bukan tanpa alasan. Ada keluhan serius dari masyarakat yang harus didengar pimpinan rumah sakit.
Sejumlah pasien peserta BPJS di RSUD Mala mengeluhkan ketiadaan obat. Ironisnya, semua jenis pasien BPJS diminta membeli obat di apotek luar dengan biaya sendiri.
“Katanya semua ditanggung BPJS, tapi kenyataannya torang harus beli di luar. Kalau tidak ada uang bagaimana? Masa orang sakit disuruh cari obat sendiri di luar rumah sakit? Ini RSUD atau apotek rujukan?” keluh salah satu keluarga pasien yang meminta namanya tidak disebutkan, Kamis (29/10/2026).
Kondisi ini jelas bertentangan dengan prinsip pelayanan Jaminan Kesehatan Nasional. Dalam aturan BPJS, pasien tidak boleh dibebani biaya obat yang seharusnya tersedia di dalam Fornas rumah sakit.
Pertanyaannya sekarang: Ke mana anggaran obat RSUD Mala? Mengapa di saat obat kosong, Direkturnya justru sibuk dinas luar daerah?
Publik Talaud menunggu jawaban. Bupati Talaud sebagai penanggung jawab tertinggi pelayanan publik di daerah, didesak untuk segera mengevaluasi kinerja Dirut RSUD Mala.
Jangan sampai rumah sakit yang dibangun dengan uang rakyat, tapi pimpinannya alergi ditemui rakyat.
Hingga berita ini ditayangkan, Direktur RSUD Mala Talaud belum berhasil dikonfirmasi. Media ini masih membuka ruang hak jawab. (Jun)










