LEKTUR.CO, MINAHASA – Jejak sejarah dan denyut pariwisata kini berpadu di Benteng Moraya Tondano.
Situs bersejarah yang menyimpan memori Perang Tondano ini perlahan menampilkan wajah baru.
Dari kawasan yang sebelumnya belum tertata rapi, Benteng Moraya kini menjelma menjadi salah satu destinasi wisata yang menarik perhatian masyarakat.
Perubahannya bukan sekadar soal penampilan. Benteng Moraya mulai menemukan peran baru sebagai ruang wisata dan rekreasi.
Bukan hanya itu, situs bersejarah ini menjadi tempat masyarakat mengenal kembali identitas dan sejarah Minahasa.
Di kawasan ini, pengunjung tidak hanya datang untuk menikmati suasana.
Ada jejak masa lalu yang menjadi bagian penting dari perjalanan panjang Tanah Minahasa.
Kini, Benteng Moraya menjadi salah satu pilihan warga untuk menghabiskan waktu bersama keluarga.
Mulai dari bersantai, hingga berburu foto dengan latar kawasan bersejarah.
Saat malam tiba, suasananya menawarkan daya tarik tersendiri. Aktivitas swafoto dan kunjungan masyarakat membuat kawasan ini semakin hidup.
Namun, ada satu bagian yang memiliki makna lebih dari sekadar tempat berkumpul.
Amphiteater Benteng Moraya menjadi ruang untuk mengenali identitas orang Minahasa.
Di sana, nama-nama fam atau marga masyarakat Minahasa ditata berdasarkan abjad, dari A hingga Z.
Bagi masyarakat setempat, marga bukan sekadar nama keluarga. Di dalamnya melekat identitas, ikatan kekerabatan, serta jejak asal-usul yang diwariskan lintas generasi.
Kehadiran nama-nama fam tersebut memberikan nilai tambah bagi Benteng Moraya.
Kawasan ini tidak hanya menawarkan pengalaman berwisata, tetapi juga menghadirkan ruang untuk mengenal kekayaan identitas masyarakat Minahasa.
Perpaduan sejarah, budaya, dan rekreasi inilah yang membuat Benteng Moraya memiliki daya tarik tersendiri.
Di balik perubahan wajah kawasan tersebut, ada upaya pembenahan yang terus didorong oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Minahasa.
Salah satu sosok yang berada di balik upaya itu adalah Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Minahasa, Drs Moudy L. Pangerapan MAP.
Sejak dipercayakan mengemban tugas tersebut, Pangerapan mulai mendorong penataan destinasi wisata di kawasan Benteng Moraya.
Kepercayaan yang diberikan Bupati Minahasa, Dr Robby Dondokambey SSi MAP bersama Wakil Bupati Vanda Sarundajang SS MAP, menjadi bagian dari upaya memperkuat pengembangan sektor pariwisata daerah.
Pembenahan tidak berhenti pada satu destinasi. Sejumlah objek wisata lainnya di Minahasa juga masuk dalam upaya penataan untuk meningkatkan daya tarik kunjungan wisatawan.
Langkah ini penting agar potensi wisata Minahasa tidak hanya dikenal karena kekayaan alamnya, tetapi juga karena sejarah dan kebudayaannya.
Perubahan Benteng Moraya menghadirkan tantangan sekaligus peluang bagi Tanah Minahasa.
Di satu sisi, kawasan ini memiliki potensi besar sebagai destinasi wisata yang dapat menggerakkan aktivitas ekonomi masyarakat.
Di sisi lain, nilai sejarah yang melekat harus tetap menjadi utama dalam pengembangannya.
Sebab, Benteng Moraya bukan sekadar latar untuk berfoto atau tempat melepas penat.
Di kawasan ini, tersimpan ingatan kolektif tentang perjuangan masyarakat Minahasa dalam Perang Tondano.
Karena itu, penataan kawasan idealnya berjalan beriringan dengan upaya memperkuat edukasi sejarah, menjaga kebersihan, merawat fasilitas, serta menghadirkan pengalaman wisata yang nyaman bagi pengunjung.
Jika dikelola secara konsisten, Benteng Moraya berpeluang menjadi lebih dari sekadar tempat wisata.
Benteng Moraya dapat berkembang menjadi ruang perjumpaan antara generasi muda dengan sejarah leluhurnya.
Bukan hanya itu, situs bersejarah ini menjadi etalase kebudayaan Minahasa bagi wisatawan dari luar daerah.
Wajah baru Benteng Moraya pada akhirnya bukan hanya tentang perubahan sebuah kawasan.
Lebih dari itu, ada upaya menghidupkan kembali warisan sejarah, merawat identitas budaya, dan menjadikannya bagian dari masa depan pariwisata Minahasa.
Kepala Disbudpar Minahasa, Drs Moudy L. Pangerapan MAP, mengatakan pembenahan destinasi wisata menjadi bagian dari upaya mengoptimalkan potensi pariwisata daerah.
“Benteng Moraya memiliki nilai sejarah dan budaya yang sangat penting bagi masyarakat Minahasa,” katanya.
Menurutnya, penataannya terus didorong agar kawasan ini semakin menarik, nyaman dikunjungi, sekaligus menjadi ruang untuk mengenal sejarah dan identitas budaya Minahasa.
“Pengembangan pariwisata tidak hanya berorientasi pada daya tarik kunjungan, tetapi juga bagaimana menjaga warisan budaya agar tetap dikenal oleh generasi mendatang,” pungkasnya. (*)










